fbpx
Home > Blog > Learning Center > Kerugian Piutang Tak Tertagih, Bikin Perusahaan dari Untung jadi Buntung

Hati-Hati Piutang Tak Tertagih! Bawa Kerugian Besar Bagi Perusahaan

Kerugian piutang tak tertagih

Meski perusahaan mendapat keuntungan dari jumlah penjualan yang meningkat, tapi ada hal lain yang berpeluang merugikan perusahaan. 

Hal ini disebut kerugian piutang tak tertagih. Karena itu, tiap perusahaan harus berhati-hati dengan poin yang satu ini.

Piutang tak tertagih adalah ketika perusahaan atau individu memiliki hutang pada perusahaan kita, tetapi tak kunjung dibayar meski sudah lewat jatuh tempo. Saat ditagih pun, ternyata pihak yang berhutang tidak mampu membayar karena satu dan lain hal. 

Kalau jumlah yang dipinjam besar atau ada banyak piutang yang tak tertagih, hal ini bisa sangat merugikan perusahaan

Table of Contents

Apa yang Menyebabkan Terjadinya Piutang tak Tertagih?

Berikut adalah beberapa faktor risiko piutang tak tertagih.

Risiko Piutang

Memberi pinjaman bisa membawa keuntungan. Karena itulah ada perusahaan multifinansial yang khusus memberi jasa pinjaman.

Ada yang khusus meminjamkan dana untuk individu dan ada juga yang menyediakan dana untuk pemilik usaha kecil dan menengah. Selama peminjam mampu membayar tagihan, perusahaan akan mendapatkan keuntungan.

Tapi tetap saja, meminjamkan dana memiliki resiko yaitu piutang yang tidak bisa ditagih. 

Debitur Meninggal

Saat mengajukan pinjaman, kebanyakan debitur sudah memperhitungkan kemampuan mereka untuk membayar cicilan setiap bulannya hingga tenor berakhir. Karena itu, banyak debitur yang mampu menunaikan cicilannya tepat waktu dan tanpa hambatan. Namun, bukan berarti debitur yang selalu membayar tepat waktu ini tidak berisiko sama sekali.

Risiko piutang tak tertagih dari debitur yang taat adalah kemungkinan debitur meninggal. Jika debitur tidak memiliki keluarga atau tulang punggung tunggal di keluarga, maka pihak kreditur tidak bisa menagih piutang. Alasannya tentu karena tidak ada sumber lainnya untuk membayar piutang tersebut.

Penerima Pinjaman Kabur

Risiko yang kedua dari menyediakan jasa pinjaman adalah kemungkinan penerima pinjaman kabur, apalagi dengan sistem pinjaman online yang begitu mudah didapat seperti saat ini. Penerima pinjaman bisa dengan mudah mengajukan sejumlah dana dan langsung kabur begitu sudah mendapatkan dananya.

Ada juga kemungkinan penerima pinjaman akan membayar cicilan dengan tepat waktu di awal. Tapi, bulan-bulan berikutnya tak kunjung membayar. Setelah diselidiki, ternyata penerima pinjaman kabur. Mereka biasanya menggunakan data palsu saat mengajukan pinjaman. Namun, ada juga yang menggunakan datanya sendiri.

Penerima Pinjaman Bangkrut

Kesan penerima pinjaman yang tidak mampu membayar tentu saja sangat negatif. Tapi sebenarnya tidak semuanya berniat untuk menghindari bayar cicilan sejak awal. Ada juga yang tidak mampu membayar karena dipaksa keadaan. Salah satunya adalah karena usahanya bangkrut. Di saat seperti ini, penerima pinjaman umumnya sudah tidak punya aset apa pun lagi untuk bayar cicilan.

Meski begitu hal ini harus diselidiki terlebih dahulu. Apakah alasan ini memang benar-benar terjadi atau hanya dijadikan alasan saja? Sebab tak sedikit debitur yang berusaha menghindar bayar cicilan menggunakan alasan ini karena terkesan paling mudah diajukan. 

Tentu, perusahaan harus menelaah lebih lanjut apakah alasannya valid atau tidak. Jika benar, maka piutang memang tidak bisa ditagih.

Kerugian Piutang Tak Tertagih

Dari ketiga risiko kerugian piutang tak tertagih di atas, perusahaan mungkin akan mengalami kerugian. Untuk perusahaan berskala besar yang sudah punya jaring pengaman di sana-sini, kerugian akibat piutang tak tertagih bisa saja dihadapi dengan mudah. Tapi, perusahaan yang skalanya tak terlalu besar biasanya akan cukup kesulitan. Apa saja kemungkinan yang akan dihadapi perusahaan saat ada piutang tak tertagih? Ini dia 4 jenis kerugiannya yang harus diwaspadai para pemilik perusahaan:

Penurunan Profitabilitas Perusahaan

Bagi perusahaan yang bergerak di jasa penyedia pinjaman, tentu saja piutang menjadi sumber pemasukan perusahaan. Dari memberikan hutang hingga mendapat cicilan piutang secara berkala, perusahaan mendapatkan profit. Dari keuntungan inilah, perusahaan bisa menjalankan operasional bisnis sehari-hari.

Dari mulai membayar gaji pegawai, penyediaan keperluan kantor, biaya promosi, dan masih banyak lagi yang berasal dari profit perusahaan. Kalau sampai terjadi piutang tak tertagih, apalagi dalam jumlah besar yang sangat merugikan, tentu profitabilitas perusahaan akan menurun.

Profitabilitas perusahaan yang menurun ini bisa berakibat ke berbagai aspek perusahaan. Misalnya, dalam keadaan yang cukup parah karena sudah terjadi selama beberapa bulan, kemungkinan saja gaji karyawan akan dikurangi untuk menutupi kerugian. Bisa juga terjadi pengurangan jumlah karyawan.

Berkurangnya profitabilitas perusahaan juga sangat berpengaruh pada penilaian investor terhadap value perusahaan tersebut. Investor mungkin saja akan menganggap perusahaan kurang mampu dalam mencapai targetnya. 

Bukan tak mungkin, investor akan berhenti berinvestasi di perusahaan tersebut, sementara calon investor jadi kurang tertarik dengan perusahaan tersebut.

Peningkatan Beban Perusahaan

Adanya piutang yang tak tertagih juga menjadi beban tambahan bagi perusahaan. Kalau tadinya dari piutang bisa untuk menutupi biaya ini dan itu, sekarang harus ada modal lain yang digunakan untuk menutupi biaya tersebut. Bagi perusahaan yang sudah punya jaring pengaman, hal ini tentu bisa diatasi dengan baik.

Tapi, meski punya jaring pengaman, jika piutang tak tertagih terus terjadi dan tetap tidak ada solusinya, maka jaring pengaman akhirnya akan habis juga. Beban perusahaan pun meningkat. Sehingga karyawan perusahaan harus berusaha lebih keras untuk menutupi beban tersebut. 

Caranya beragam, mungkin dengan bekerja lembur dan harus mencari ide baru yang berpotensi jadi solusi.

Arus Kas Berantakan

Piutang yang dibayar debitur dengan teratur akan membuat arus kas perusahaan berjalan lancar. Tim akuntansi dan keuangan tidak akan kesulitan dalam mencatat transaksi. 

Sebaliknya, kalau piutang tak tertagih, pasti arus kas akan berantakan. Apa yang sudah dianggarkan dan direncanakan sebelumnya tidak tercapai dan kas pun tercatat berbeda dari rencana awal.

Bagi perusahaan yang sudah menggunakan sistem akuntansi anggaran atau budgeting. Arus kas yang dihasilkan dari piutang tak tertagih pasti akan jauh berbeda dari rencana. 

Untuk membuat arus kas kembali stabil, karyawan perusahaanlah yang akhirnya harus berusaha lebih keras mencari dan menjalankan solusinya. Karena itu, tentu diharapkan arus kas tidak berantakan dalam waktu lama.

Pengurangan Aset Piutang

Risiko piutang terakhir adalah berkurangnya modal yang dialirkan untuk piutang. Dengan begitu, aset piutang pun mau tak mau terpaksa harus dikurangi. 

Penurunan aset jelas merupakan kerugian bagi perusahaan. Inilah hal yang mungkin dihadapi perusahaan bila ada kasus piutang tak tertagih yang dilakukan banyak debitur atau sedikit debitur tapi dalam jumlah besar.

Sebelum menyediakan jasa memberikan pinjaman, sebaiknya pemilik usaha memahami apa saja risiko piutang yang mungkin dihadapi. Setidaknya harus sudah dipikirkan solusi sejak awal dan mempersiapkan anggaran khusus untuk menanggulangi kemungkinan kerugian piutang tak tertagih. 

Nah, supaya makin banyak tahu soal keuangan, yuk baca artikel selanjutnya. 

Masih Ingin Membaca?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.